Selamat datang di website kami

Inventnomics adalah perusahaan riset dan konsultan ekonomi di Jakarta. Fokus kami pada kajian desentralisasi fiskal dan otonomi daerah; organisasi industri dan riset pasar; ekonomi internasional; dan ekonomi sumber daya alam.

Mitra potensial kami adalah lembaga internasional; kementerian/lembaga; pemerintahan daerah; asosiasi industri; perusahaan dan industri; serta organisasi sosial dan politik.

Menjadi Aktivis Dalam Pusaran Global Village!!!

Setiap generasi ada zamannya

sehingga jangan bertindak di luar zaman,

apalagi membelakanginya

karena engkau akan digilas,

ditingalkannya bahkan zaman bisa membunuhmu.

Aktivis yang selalu dikaitkan dengan terminologis kritis, radikal, berani, rewa, takliwa-liwa dan nekat sebagai simbolisasi indentitasnya. pemaknaan aktivis dalam kategori kritis berarti sosok mahasiswa atau pemuda memiliki nalar yang mengedepankan perdebatan kritis dan rekayasa sosial atas kondisi sosial yang menghimpit dan tidak adil. pemaknaan kritis ini lebih banyak melihat aktivis sebagai kelompok progresif yang terlibat langsung dalam proses konsolidasi demokrasi dan perubahan sosial.

Pada konteks lain mahasiswa atau aktivis selalu diakiitakan dengan kata berani, nekat dan takliwa-liwa untuk menegaskan interitas altruismenya. Aktivis yang tidak memiliki keberanian akan sulit bersuara lantang dalam kehidupan yang memaksanya diam sehingga untuk berkata tidak harus menjadikan diri sebagao sosok berani bahkan nekat dengan resiko apapun. kalau ada aktivis menyatakan rela mati demi apa yang diyakininya merupakan pembenaran akan dirinya yang rewa, barani, nekat.

Sedangkan takliwa-liwa (berlebihan) merupakan sikap yang mesti dimiliki agar suaranya bisa di dengar. takliwa-liwa akan membuat aktivis mudah menyerang apa saja dan kapan saja sepanjang ada asumsi logis faktualanya. Jika aktivis tidak memiliki sikap takliwa-liwa (berlebihan mengkirtisi namun konteks) akan kesulitan melakukan npressure isu, konsolidasi karena berlebihan dalam artian ini adalah taktis strategis dalam mengkondisikan sektor sosio-politik ke masyarakat.

Kategori di atas merupakan bagian yang tidak boleh diabaikan bagi sosok yang mengaku aktivis. Jika ada pengabaian akan konsepsi di atas biasanya gerakan mahasiswa akan kehilangan nyali dan pengaruh sosial bahkan kehilangan wibawah politik. penegasan politik seoarang aktivis memang harus konten dan konteks. Kontennya penegasan politik mahasiswa dengan tetap mengangkat hal-hal mendasar dalam masyarakat yang ada, proses meramu hal-hal mendasar ini memiliki landasan pikir yang memadai agar memiliki mutu gagasan. kontek juga bermakna dalam kategori kontradiksi pokok yang menjadi alasan semua pergerakan dan isu, namun konten apapun yang diangkat akan kehilangan momen jika perangkat strategis tidak terjewantahkan dalam rumusan konteks sosial.

Untuk memahami konteks penulis akan memebrikan perumpamaan. pada prinsipnya obat adalah alat penyembuh penyakit, jika saya, anda sakit kepala maka minum obat bodres agar bisa hilang sakitnya, namun jika anda atau saya meminum bodres melebihi dosisnya kemungkinan besar akan ta’langnge-langnge bahkan bisa pingsang yang menyebabkannya haru dibawa ke rumah sakit umum Bantaeng. Pada konteks lain anda hanya meminum sedikit saja maka akan kesulitan untuk menyembuhkan penyakit kepala anda sehingga obat anda minum secara sia-sia alias pekerjaan kosong.

Disinilah dibutuhkan kontekstualisasi sebuah obat agar dosis tidak melibihi batas atau sangat sedikit supaya penyakit yang akan diobati bisa sembuh secara wajar dab benar. begitu juga seoarng aktivis dalam mengawal sebuah rekaysa sosial membutuhkkan kontekstualisasi ide, kontekstualisasi gagasan perubahan. Jangan mengangkat tema keluatan di komunitas petani walaupun tujuannya untuk menyelesaikan soal kemiskinan semua rakyat. Tetapi angkatlah konsep pertanian yang ramah lingkungan, bagaimana menjadi petani yang baik, bagaimana menjadi petani berpolitik, bagaimana petani memperjuangkan haknya dihadapan para petani. dengan demikian akan ada respon positif untuk menjiwai perubahan dan rekayasa sosial.

Fase-Fase Aktivis di Nusantara

Jika kita berkaca pada sejarah maka kita akan menemukan kelompok budi utomo, kelompok kiri Soekarnoisme dan ekonom Hatta yang memiliki konteks dan konten pergerakan pada saat mereka berjuang (1925-1945). keberadaan aktivis pada masa awal pra kondisi kemerdekaan menegaskan kepada kita proses politik yang didorang adalah rekayasa kemerdekaan Indonesia dengan agenda revolusi.

Pada aspek lain aktivis pra kemerdekaan menempatkan dirinya sebagai tokoh intelektual dengan menghasilkan gagasan-gagasan kebangsaan untuk menjiwai semangat perjuangan kaum muda untuk merdeka. Penjiwaan ini konteks karena pergerakan yang dibangun hanya untuk meraih kemerdekaan indonesia, sehingga perangkat-perangkat politik yang dibangun adalah komunitas-komunitas bergerak bersama rakyat yang dipersenjatai, namun terkontrol dalam semangat intelektualisme aktivis soekarno dan kawan-kawannya.

Sementara pada fase tahun 1966 gejolak politik yang muncul adalah diinternal kekuasaan negara. Dengan naiknya bahan dan adanya perang kepentingan elit. Proses politik yang didorong adalah semangat anti terhadap komunis, semangat ini membuat soekarno jatuh karena dia dianggap sebagai sosok sosialis dengan gagasan NASAKOM (nasionalisme komunis dan agama). Jikapun banyak yang melakukan perlawan terhadap seokarno dan adanya rekayasa menjatuhkannya namun beliau tidak pernah jatuh di nurani rakyat marhaenisme karena Seokarne berjuang untuk kaum miskin.

Gerakan selama proses politik soekarno tidak terlalu menonjol perekaysaan asalnya dari mahasiswa karena proses eksekusi mpolitik banyak dipengaruhi oleh militer. sehingga konten gerakan tahun 1966 tidak menghasilkan apa-apa selain pergantian penguasa dari kaum Marhaenisme menjadi kaum otoriter militeristik. sementara pada tahun 1998 masa reformasi pergerakan mahasiswa banyak didalangi oleh aktivis oragnisatoris. proses ini bisa dilihat dengan menyaksikan palaku sejara Amien rais dan kawan-kawan yang menginginkan reformasi di indonesia. meraka para aktivis terlahir dari lembaga pergerakan HMI, KMNI. dan kelompok-kelompok aktivis lainnya. gerakan yang dibangun adalah oposisi total terhadap resim dengan karakter perjuangan berwajah kaum muda kritis dan nasionalis religius termasuk pemuda, kiri.

Bagaimana Sekarang Aktivis?

Saat ini aktivis mulai kehilangan momentum politik karena nalarnya masih lebih banyak terjebak dalam logika lama. logika kaum aktivis semasa Amien dan kawan-kawannya yang selalu menempatkan kekuasaan sebagai musuh utama padahal ada juga penguasa yang sepakat dengan agenda perubahan. disinilah kontekstualisasi gagasan gerakan sosial baru yang menempatkan tujuan sebagai pengikat perjuangan bersama dan tidak lagi terjebak dengan soal ideologi politik karena ideologi sudah selesai yang jadi soal bagaimana operasionalisasi idelogis.

Proses perjuangan sudah melihat kelompok-kelompok sosial sebagai sebuah kekuatan unik, beragam dan prfesionalitas. kebutuhan akan kontekstualisasi rekayasa perubahan sosial akan terjadi jika mahasiswa saat ini atau aktivis pergerakan memiliki momentum dan rekayasa besar.

Untuk itu mahasiswa atau aktivis perlu membangun komunitas bersama yang fokus isu strategis. banyaknya isu saat ini membuat hampir semu pergerakan aktivis tak memiliki momentum politik hegeminik sehingga perlu ada rekayasa konsen isu besar bersama. dalam istilah sebuah buku intelektual kolektiv yang memiliki kriteria. profesionalitas, pluralis, sistemik, konsistensi dan hegemonik pemikirannya alias berfikir brilyan.

Profesionalitas seorang aktivis sangat dibutuhkan karena selama ini pekerjaan dan fokus kativis tidak jelas bahkan menjadi gelandangan intelektual. untuk menjawab perubahan zaman dan kedatangan global village maka dibutuhkan sebuah usaha untuk bisa bersaing salah satu semntrum usaha itu dengan membangun profesionalitas pada bidang tertentu agar bisa langsung merespon dengan benar pada isu profesionalitas.

Sistemik, pluralis, menisbahkan kepada kita bahwa zaman ini adalah era globalisasi yang membawa kekuatan imperialisme raksasa dan perangkat neoliberalisme dibalik wajah manis WTO dan work bank. jika aktivis tidak berkumpul untuk melakukan kerja bersama secara sistemik maka akan tergiring dalam arus besar apalagi mau melawan mustahil bisa dilakukan dengan bergerak sendiri-sendiri. ide inlelektual kolektif yang juga diperkenalkan Pierre Bourdieu adalah rekayasa perubahan untuk mendesain proses kedatangan globalisasi agar bangsa kita dan daerah kita tak tergadai dan hancur dalam kuasa sistemik kapitalisme internasional dan belenggu politik internasional.

Sementara pluralitas sangat penting karena tanpa semangat plural akan susah melalukan gerakan bersama. gerakan yang menyatukan semua kelompok aktivis tanpa mengenal warnanya sebagai warna a,b,c,d namun melihat semangat bersama anti terhadap neoliberalisme dan kolonialisme mutakhir.

Jika kesamaan visi dan perjuangan telah dirampungkan maka secara otomatis akan ada rekayasa bersama membentuk from politik kaum muda membebaskan bangsa dalam ancaman kuasa politik internasional.

Bahtiar Ali Rambangeng

(Peneliti Masalah Sosial)

Redam Ekspektasi Kenaikan Harga Meningkatkan Pendapatan Masyarakat sebagai Penetral

Oleh: SYARIF SYAHRIAL

Satu temuan menarik dari pengolahan data statistik industri. Ternyata, dari total input industri di Indonesia pada tahun 2003, bahan bakar minyak merupakan input dengan porsi sedikit. Hanya sekitar 3,68 persen dari total input industri.

Secara sederhana, jika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
sebesar 80 persen sekalipun, maka implikasi peningkatan biaya input produksi hanya sekitar 2,94 persen. Tentunya, hal ini mendapat tentangan, karena input produksi juga menyangkut biaya transportasi yang menggunakan BBM sebagai input-nya.

Baca selengkapnya

Dampak Pemekaran Daerah terhadap APBN

BELUM lama berselang, Presiden melalui Menteri Dalam Negeri meresmikan provinsi baru yaitu Provinsi Kepulauan Riau. Baru-baru ini kita juga mendengar sejumlah tuntutan agar dibentuk provinsi Sulawesi Timur yang beribukota di Poso. Tuntutan semacam ini sering kita dengar sejak adanya implementasi otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia.

Dampak dari pemekaran daerah ini adalah, jumlah pemerintah daerah baru di Indonesia berkembang sangat fantastis dan cenderung ‘berlebihan’. Tulisan ini akan mengungkapkan lebih jauh dampak pemekaran pemerintah daerah ini terhadap beban APBN. Baca selengkapnya

Angka Kemiskinan Pascapemilu

PEMILU putaran pertama pemilihan presiden di republik ini telah usai. Perhitungan sementara menunjukkan bahwa pasangan SBY-Kalla serta Mega-Hasyim yang akan melaju ke putaran kedua. Putaran yang akan menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin Indonesia. Kita akan kembali diingatkan janji dan mimpi calon pemimpin termasuk janji untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia.

Visi dan misi calon presiden dan calon wakil presiden tidak terlepas dari indikator keberhasilan yang dapat dijadikan penilaian oleh masyarakat ketika mereka akan memimpin kelak. Mengenai indikasi keinginan menurunkan tingkat kemiskinan, kedua kandidat ini secara eksplisit menyebutkannya. Rekomendasi Lima sebagai program yang ingin dicapai oleh Mega-Hasyim dalam lima tahun ke depan, menargetkan untuk mengurangi tingkat kemiskinan hingga 45%. Dalam visi dan misi SBY-Kalla, pasangan tersebut menargetkan penurunan tingkat kemiskinan sebesar 17%. Baca selengkapnya

Protokol Kyoto dan Mekanisme Pembangunan Bersih

PLANET Bumi kini berbeban berat karena pemanasan global menyebabkan perubahan iklim. Karena itu berbagai negara berupaya membuat kerangka kerja tentang perubahan iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change).

Indonesia telah meratifikasi UNFCC 1994. Secara umum konvensi berupaya menstabilkan temperatur global untuk menghindari dampak buruk. Kemudian, 1997, Protokol Kyoto disetujui bersama sebagai mekanisme mereduksi emisi gas rumah kaca. Baca selengkapnya